Ekspresi Speechless Bulan Mei

12 May

Desain Kaos buatan kalian emang bikin terharu :’)

Teruntuk teman luar biasa. Berulang kali kita bercerita, namun sayang belum dalam versi tulisnya. Demi kenangan saat kita udah kakek nenek nanti, ini untuk kalian. Big thanks!

 “Kamu besok lari, mbak?,” tanya adikku saat aku menjemputnya

Nggak tahu. Ngapa emang?”

“Emm, nggakpapa …” jawabnya mengundang banyak tanya.

“Nggakpapa”. Itulah awal dari kecurigaan. Entah untung atau sayangnya, aku hanya menganggap tanda tanya tersebut sebagai sebuah angin lalu. Tak ada yang berbeda malam itu, aku pun terlelap dalam hangatnya selimut dan final FA Chelsea Liverpool.

Pagi datang dan berisik di depan rumah sempat menggangguku. Suara apa sih pagi-pagi gini? Aku memutuskan untuk tak peduli dan melanjutkan tidurku. Masih pagi, masih jam 5.00. Aku pun bersamaan menunda lari pagiku.

Aniiiin ..” kudengar suara seseorang yang familiar memanggilku. Siapa sih ….

Taraaaaa, selamat datang kejadian Speechless #1. Empat orang teman terbaik : Iwin, Andre, dan Angel, serta teman SMA, Restu. Mereka membangunkan tidurku. Mereka menyambut hari ulang tahunku. Sukses, aku pun terdiam, ini jam berapaaa?

Mereka lengkap dengan jaket dan mata pandanya. Aku tahu, mereka sudah melakukan hal luar biasa pagi itu. Lu-ar-bi-a-sa. Mereka pun membawa tumpeng yang lengkap dengan nama ‘anin’ dan ‘19’ di sana. So sweet, ini pertama kalinya sebuah mimpi nggak sengaja dan konyol jadi kenyataan. It’s … over my head.

Hari itu berlalu dengan sangat menggembirakan. Ucapan datang, harapan datang. Nggak di dunia nyata, nggak di dunia maya. Aku pun nggak sengaja bertemu Andre di facebook.

“Tunggu kejutan lagi ya…”

“Apalagi emang?,” jawabku penasaran

Tunggu aja ..”

Oke’ menjadi jawaban singkatku saat itu. Nggak ada yang kubayangkan, kubiarkan semua itu berjalan seperti biasa agar kejutan mereka pun sukses. Suatu malam, Iwin sms.

Besok aku mau wawancara kamu ttg kain sutera. Ketemuan jam 10 ya”

Ini apa lagi? Bisnis kain sutera? Apaan lagi sih ni anak-anak Manajemen. Produktif amat mau bikin bisnis, kain sutera lagi. Alamak, mau nyaingin pedagang chaiya-chaiya aja.

Belum jam 10 keesokan harinya, aku udah ketemuan sama Iwin. Tapi nggak cuma dia, ada juga Yasti sama Andre. Disusul tiba-tiba ada Ribka sama mas Cleo. Yang aku pikirkan sekarang, kok aku nggak curiga ya? Perasaan mas Cleo bukan anak Mene. Dia juga tiba-tiba nyalamin aku. Apa-apaan. Apa-apaan juga kamu nggak sadar, Nin?

Dan ketika Angel dateng, semuanya pun jelas. Mereka menunggu Angel untuk memberiku kejutan ini. Sebuah kaos dengan wajahku di bagian depan dan wajah mereka di bagian belakang. Oke, speechless #2. Kalo biasanya aku lihay ngusilin orang lain dengan segala trik dan tipu daya, kenapa aku sekarang malah jadi korbannya? Biasanya juga aku sadar sama hal-hal aneh, kenapa sekarang ngga? Aku bilang kejutan kalian itu rapi sekali. Rapi luar biasa.

***

Taukah kalian? Aku terharu dengan semua ini. Aku terharu melihat kalian bangun jam 4.00 pagi, menembus jalanan, membawa tumpeng, saling menjemput, dan segalanya demi mengucapkan selamat ulang tahun, Anin. Aku juga terharu dengan rencana kalian yang begitu rapi.

Ohya, Andre bilang ini ide Iwin. Maka, aku berikan kredit luar biasa yang pertama ini ke kamu : Iwin sang koordinator grebek yang hebat. Mengkoordinir teman hampir nggak ada bedanya sama mengkoordinir pacar. Jangan tidur malem ya, jangan lupa nyalain alarm, jangan ini itu ya … Atau mungkin bahkan, met tidur, mimpiin aku ya *gubrak*. Hebat. Itupun ia lakukan untuk Andre. Andre dan Iwin *diam*. Kredit juga buat kamu yang udah susah payah nyari nomer adekku, merapikan kaos, nyiapin tumpeng, jadi saingannya Pedrosa pagi-pagi, jagoan ijin ke semua orang, sampe nyebar warta kalo aku ulang tahun kemana-mana. Diselamatin orang yang baru pertama kali aku tahu itu lumayan gimana lho ya …

Tangan di atas yang serupa juga aku berikan untuk Andre, Angel, Yasti, mbak Siska, mas Cleo, dan Restu untuk semuanya. Walaupun pada akhirnya yang dateng ke rumah pagi-pagi udah kena seleksi alam, tapi itu tetap membuatku terharu. Andre, partnerku yang luar biasa. Nggak di kelas, berbagai kelompok, Asmat, atau bahkan Gotri dan toko sepatu obral, kamu partner yang hebat. Makasih ya, Andrean Indra Aja Ya. Pasti kamar kosmu juga dah jadi basecampnya Asmat, kan? Makasih, kamar garasi! Untuk Angel dan Restu, tangan di atas untuk perjuangan paginya. Aku tahu Angel seorang yang sering terlambat *sebelas duabelas sama aku*, aku pun tahu bahwa Restu lumayan susah bangun pagi kalo libur. Itu luar biasa gila :D

Ketika mulut tiba-tiba membisu, kata-kata lah yang mengekspresikan segalanya. Thanks, guys. I love you all :D

Serbuan Siluman Anak Aktif

5 May

Kampusku mengharuskan mahasiswanya untuk mengumpulkan sejumlah poin untuk dapat mengikuti ujian akhir. Poin tersebut didapat dari semua kegiatan mahasiswa mulai dari seminar, kepanitiaan, lomba, organisasi, dll. Kebijakan tersebut dibuat sebagai solusi beberapa mahasiswa yang terlalu asyik dengan akademisnya. Biar nggak terjebak dalam keegoisan, diciptakanlah kebijakan ini.

Menurutku, ini solusi brilian. Sayang, kebijakan tersebut kadang malah disalahartikan. Setiap ikut event, yang dicari bukan pengalamannya, tapi sertifikatnya. Entah kerja bener atau nggak yang penting sertifikat. Entah nyambung sama bidang apa nggak, yang penting sertifikat. Kasus kayak gini pun ternyata nggak cuma aku temuin di kampus tercinta. Ternyata, kampus negeri/swasta tetangga juga gini. Bedanya, tujuan mereka bukan poin-poin itu, tapi makin tebalnya CV.

Nah, argumenku ini semakin kuat beberapa minggu terakhir. Kebetulan akhir-akhir ini aku sering ketemu temen-temen dari luar kampus dan ikut beberapa seminar di luar kampus juga. Alamaaaak sama aja ternyata. Di seminar nasional pertamaku di UGM (28/4) kemarin, segerombolan anak yang duduk di depanku persis dengan asyiknya maen android/bb dari awal sampe akhir acara. Lain cerita di seminar IFRS yang aku ikutin di UII tadi (5/5), beberapa anak juga malah tidur pulas dan cuma tengak-tengok sana-sini.

Aku nulis gini bukan berarti aku menganggap diriku seorang mahasiswa harapan bangsa yang selalu berjalan lurus dan paling bener sedunia. Aku cuma prihatin. Aku akui, aku juga beberapa kali ngrasain rasa kantuk tak tertahankan pas seminar. Tapi, aku selalu berusaha melawan itu. Entah ngajak temen diskusiin materi atau sekedar minum air putih atau makan permen. Nggak dong sama materi sehingga mati kebosanan juga bisa jadi alasan jadi siluman di seminar. Tapi ya nggak gitu juga dong. Seenggaknya catet aja istilah-istilah yang sering muncul, lalu tanyalah pada mbah Google.

Aku nulis gini karena aku khawatir. Kalo yang dilakuin mahasiswa sekarang kayak gini terus, kapan Indonesia bisa maju. Ambil saja contoh realita yang terjadi di dunia Akuntansi. Seperti yang aku dapet di seminar IFRS tadi, kata pak Tarko -Sekjen IAPI, akuntan publik di Indonesia cuma aja 1000 orang. Bandingkan dengan negaa tetangga kayak Singapura dan Malaysia. Akuntan publik mereka udah mencapai 15.000. Inggris malah lebih parah, di atas 100.000, Saudara-saudara. Aaaa kalau begitu, ada apa dengan Indonesia? Katanya jurusan Akuntansi paling favorit. Tapi kok …

Bagaimanapun juga, mungkin serbuan siluman anak aktif itulah penyebabnya. Kelihatan sibuk luar dalam kampus padahal nggak nglakuin apa-apa hanya demi sertifikat dan tebalnya CV tadi. Mahasiswa, berubah yuk!

 

Tags: , , ,

Ketika Menulis itu Melegakan

5 May

Nggak sengaja mampir di blog seorang kakak kelas, pada akhirnya saya menemukan sebuah proyek keren. 31 Hari Menulis, sebuah kegiatan Komunikasi UGM dimana anggotanya harus membuat artikel di blognya setiap hari, selama bulan Mei ini. Wow, 31 tulisan dalam 31 hari? Itu gila. Itu selo banget. Itu … menantang banget mengingat setiap ‘bolos’ kamu harus bayar denda 20ribu- Oo oo makan di warung Texas 5 kali. 

Ibarat alarm dengan ringtone Pacar Lima Langkah yang keras banget, tiba-tiba aku pun keinget sama blog ini. Kapan kamu terakhir nulis ya? Ini hari apa? Emang sempet kena amnesia bentar, tapi ternyata aku belum keluar dari target yang aku buat sendiri sejak sebulan lalu -seminggu satu artikel. Jujur, sama seperti 31 Hari Menulis, dengan target itu aku pengen nglatih komintmen nulisku. Memang, sama sekali belum produktif di bidang Ekonomi, tapi membiasakan diri seperti ini bisa membantu kan? Banget.

Gerakan jemari ini pun tiba-tiba membawaku ke memori seragam merah putih dulu. Aku ingat, pas kelas 4, ngga diduga-duga aku dapet prestasi pertamaku di bidang tulis menulis. Juara 1 Lomba Mengarang antar kelas 4-5 SDK Debar, perayaan hari Kartini. Hadiah fisiknya memang ‘cuma’ tempat pensil boneka, tapi efeknya jauh lebih dari itu. Aku jadi semangat nulis, semangat imajinasi alias mikir aneh-aneh. Hasilnya cukup lumayan. Seenggaknya sempet nongol di Bobo ataupun Kompas Anak.

Hubungan khususku dengan pena atau keyboard laptop/komputer pun berlajut hingga SMP, SMA, sampai sekarang. Aku memang masih nggak ikut klub jurnalistik apapun di kuliah, tapi kegiatan menulis atau cari mencari ide itu masih selalu ada. Walau tak sebanyak yang dulu …

Masalahnya tak hanya ada pada malas atau (sok) sibuk. Masalahnya adalah terkadang aku nggak tahu apa yang aku harus tulis. Alasannya jelas, aku nggak cukup ngluangin waktu buat baca. Aku nggak cukup nyempetin diri untuk duduk manis terhanyut dalam jendela dunia yang hebat. Sayang, tapi itulah yang harus dilawan.

Bagaimanapun juga, bagiku, menulis memang selalu melegakan. Aku memang masih terlalu jauh dari kata ‘hebat’ atau sekedar ‘layak’, tapi aku selalu suka hal ini. Menulis sama seperti bercerita. Menulis adalah teman terbaik. Tak perlu sungkan ataupun merasa bersalah, ia akan selalu mendengar celoteh kata kita. Apapun itu …

Tags: ,

BERBURU, dari Generasi Muda untuk Budaya

29 Apr

Sebagai jurnalis di sebuah website event, radar keingintahuan-akan-adanya-event2-ku selalu meningkat kalo aku lagi nginternet atau naik motor (liat baliho dkk maksudnya) . Nah, di antara yang aku dapetin hari ini, event inilah yang paling menarik : BERBURU “A Fun Charity Night”. 

Hal pertama yang mbuat aku tertarik adalah desain posternya yang unik. Dilihat dari fontnya yang beda-beda, kayaknya sih emang poster ini handmade. Unyu banget ya, niat dan beda dari yang biasanya! Nah, keunyuannya itulah yang sukses mbikin aku makin penasaran. Penasaran apa itu BERBURU, lebih tepatnya.
Setelah bergoogling ria, inilah yang aku dapet. BERBURU alias Berbudaya itu Seru adalah program yang ditujukan untuk menciptakan generasi muda yang berbudaya. Memusatkan kegiatan di Jakarta, kegiatan yang dilakukan Berburu adalah mengajar murid-murid di SD negeri di Jakarta. Para detektif Cilik, panggilan untuk murid dipanggil, belajar menjadi berbudaya melalui berbagai macam metode seru, mulai dari diskusi, simulasi, permainan, nyanyian hingga praktikum. Nggak main-main, program juga telah mendapat penghargaan “Young Changemakers Initiatives” dari yayasan Ashoka Indonesia di akhir tahun 2008.
Keren ya? Hiks hiks, sayang belum ada di Jogja. Sayang lagi karena aku lagi ribet selama beberapa bulan ke depan. Masalah ajar-mengajar anak kecil, sebenernya aku udah ditawarin anak HIMAKS buat ikutan acara kayak gini bulan Mei besok. Tapi, karena emang waktunya nggak memungkinkan, nggak aku ambil deh tawarannya. Padahal pengen bangeeeet :( Emang dasarnya suka anak kecil juga sih, jadi emang selalu tertarik sama acara beginian.
Hoaaa, kapan-kapan ikutan deh. Suatu saat harus ikut! Horay!

Tags: , ,

Perahu Kertas Siap Berlayar Lebaran!

21 Apr

Aku ingat. Buku ini yang pertama kali memaksaku membacanya di laptop dan akhirnya menyerah setelah menghabiskan setengah bukunya. Aku ingat, di awal aku ragu tapi pada akhirnya aku jatuh cinta. Inilah novel yang filmnya akan berlayar di bioskop Lebaran mendatang, Perahu Kertas. 

Tiga hari yang lalu teaser-nya diupload. Kesan pertama? Keren. Aku memang bukan orang yang ngerti sinematografi. Tapi sebagai orang awam, aku menikmati banget suasana sejuk dan sedih yang didapet dari musiknya. Romantis dan makin bikin penasaran.  Lain dari itu, rasanya pengen banget baca ulang Perahu Kertas. 

Perahu Kertas the movie diperankan oleh Maudy Ayunda sebagai Keenan dan Adipati Dolken sebagai Kugy. Yup, pasangan yang sama dengan film Malaikat Tanpa Sayap. Mungkin salah satu alasan terpilihnya mereka adalah karena chemistry di antara mereka emang udah bagus. Tapi, kok menurutku muka mereka terlalu imut untuk Kugy dan Keenan ya? Jujur bayangan Kugy Keenan ku nggak seimut mereka. Entah karena bayangan Kugy Keenan-ku yang terlalu dewasa atau emang karena aku belum liat mereka sebenarnya. Namanya juga baru lihat potongan film.

inilah Kugy....lagi ngobrol sama @deelestari :) ) *ayo tebaaakk* --> kata2 Fanpage Perahu Kertas

Bagaimanapun juga, aku akui Hanung Bramantyo cs cukup sukses dalam memanfaatkan kuatnya penggemar novel Perahu Kertas itu sendiri. Selain udah gembar-gembor film sejak lama, mereka juga sukses bikin penggemar novel tebak menebak siapa pemeran Kugy Keenan cs. Lihat aja foto yang mereka post di fanpage Perahu Kertas Februari lalu. Sukses lho ya :p Makin nggak sabaaar!

Tags: , ,

Rekaman April : Antara UTS, Paskah, dan Kenekatan Diri

18 Apr

Ada yang spesial di bulan April ini. Bukan karena aku dapet rejeki nomplok 1 milyar atau Justin Bieber tiba-tiba dangdutan di depan rumah, tapi karena pengalaman yang aku dapet. Berbagai kegiatan tiba-tiba aja numpuk di satu waktu. Nggak munafik, mereka kadang mbuat aku stres sendiri. Tapi, seru dan menantang lho ternyata! Semacam jadi orang sibuk yang kudu mbuat check list apa aja yang harus dilakuin setiap hari. Haha, daripada anak cucuku keburu lahir ke bumi, langsung cerita aja ya. Simaklah, wahai pembacaku! 

Bulan April aku awali dengan paniknya UTS. Persiapannya pun bagai pinang nggak terbelah alias beda banget sama jaman dulu semester 1. Dulu, semuanya siap. Paling nggak, udah ngopi catetan temen atau gimana. Sekarang? Boro-boro banget. Buku cetak aja baru beli H-3 jam dan langsung kebut baca. Belum lagi materi. H-1 baru sadar kalo materinya banyak banget dan pada akhirnya kebut semalam, kadang cuma tidur 3 jaman juga(3 jaman?3 zaman?). Bukan karena belajar mlulu juga lho tapi. Banyakan ke nonbelajar tetepan. Kacau dan pasrah lah sama hasilnya.

UTS kemarin juga bebarengan sama perayaan Paskah. Yes, perayaan dimana di salah satu misa aku jadi dirigen paduan suara. Buat orang pemula kayak aku, jujur itu beban banget. Mikir gerakan tangan naik apa turun dulu aja bisa bikin lupa nama sendiri (please?). Udah gitu, pas gladi bersih, aku dipaksa jadi dirigen lagu yang sama sekali nggak aku ngerti. Okay, aku udah tahu kalo aku bakal mimpin lagu itu. Tapi … aku belum sempet latian sama sekali. Bukan salah ibu mengandung sih. Tapi, kejar-kejaran ala canon secara spontanitas (red. paduan suara nggak bareng, kacau) itu bikin down banget. Gladi bersih lho ya! Untuuuung aja, pas hari H semuanya udah sehat. Puji Tuhan banget! Berkat senyuman mautku juga –aku ndirigen sambil senyum2(gila) -, penyanyi paduan suara nggak ada yang sadar kalo aku sempet salah ketukan. Keajaiban Paskah! :D

Mbak Yudith-Me(Anin)-Dewi-Mbak Galih. Muka kucel dan jaman rambut masih panjang :)

Lain lagi, hal yang bikin hectic selanjutnya adalah IKYEP (Indonesia Korea Youth Exchange Program), sebuah pertukaran pelajar yang diselenggarain Kementrian Pemuda dan Olahraga. Tentu aja aku bukan orang yang kepilih itu. Seleksi administrasi aja nggak lolos :p. Dari awal, sebenernya aku nggak berharap sama kesempatan ini. Bukan minder lho ya, tapi lumayan realistis. Bisa juga dibilang ini kenekatan diri. Dilihat dari umur, umur 18 ku ini adalah umur termuda yang bisa ikut. Masih ada banyak cewek-cewek 6 tahun lebih tua dari aku yang bisa ikut. Tapi, bagaimana pun juga, pengalaman ikut seleksi administrasi itu gila banget lho.

Banyak banget hal yang tiba-tiba (makin sering) aku lakuin karena seleksi itu. Pertama, aku jadi makin cinta sama lagu Jawa. Kemana-mana dengerinnya lagu Bossanova Jawa melulu. Bukan gimana-gimana, ada tes seleksi bakat juga kalo lolos. Kedua, aku makin sering ngomong sendiri. Ngomong sendiri, ngarang situasi dan cerita sendiri, tapi pake basa Inggris. Sebelumnya aku memang sering gini buat nglatih speaking, tapi gara-gara seleksi itu aku jadi makin sering (gila lagi). Ketiga, aku jadi tahu TOEFL scoreku yang ternyata masih cemen akut. Aku ikut TOEFL –Like di FEB UGM, dan hasilnya 550 aja nggak nyampe. Di atas 500 memang, tapi … gimana mau ke Amerika kalo gini caranya??? Lalu, pengalaman bahwa seleksi alam itu ada banget juga kerasa gara-gara ini. Ceritanya, yang ngasih tau aku kalo ada pertukaran pelajar ini adalah anak-anak EEC. Tadinya, kita -sekitar berlima- semangat banget mau daftar. Rencana ngumpulin ke Badan Pemuda dan Olahraga bareng, dan sebagainya. Tetapi faktanya, akhirnya aku sendiri yang daftar. Ya emang nggak keterima juga sih, tapi kan udah nyoba. Daripada kalian, huh? *baca ala sinetron*

Ini dia posternya. Pastinya, butuh usaha yang gila juga!

Bagaimanapun juga, aku ikhlas banget kok nggak keterima. Emang akunya yang kurang mbuktiin kalo aku layak. Banyak banget yang jauh lebih gila dari aku lah. Dan kemarin aku baru aja buka websitenya lagi. Ternyata, udah ada peserta Final Round IKYEP. Karena penasarannya, aku pun googling satu per satu nama itu. Kamu bisa bilang aku terlalu niat, tapi inilah yang aku lakuin. Hasilnya? Haduuuh, rasanya pengen joget-joget sambil koprol pas baca profil mereka. Astaga banget ya, ada yang udah juara debat bahasa Inggris nasional, langganan juara speech contest, sampe ada yang udah jadi peserta Indonesia Mengajar. Apa-apaaan -.- Wajar sih. Cuma ngandalin pengalaman SMA dan belum ada setahun kuliah ini, ya emang aku cuma butiran debu banget dibanding mereka. Tapi aku tetep nggak patah semangat kok, malah makin semangat. Pahit-pahitnya, masih ada 6 kali kesempatan lagi lah aku bisa nyoba. Itu cuma di program ini lho, belum yang lain :)

Huaaaaah, masih tanggal 18 tapi udah banyak cerita gini. Seneng deh bisa share gini. Tetap semangat dan produktif, kawan-kawan! Ingat mimpi, ingat anak cucu! Watchaaaaw *sambil teriak ala Iko Uwais dan koprol keliling lapangan*

Tags:

Telat Gaul Raditya Dika

15 Apr

Udah telat baca, beli bukunya diskon 70% pula!

Siapa sih yang nggak tahu Raditya Dika? Blogger konyol yang udah malang melintang di TV, twitter, toko buku, sampai otak-otak pembaca yang udah diracuni.  Sebenernya, aku pun udah tau Raditya Dika sejak buku pertamanya, Kambing Jantan muncul. Sayangnya, setelah sekian lama baru akhir-akhir ini aja bukunya sempet kesentuh.  Kemana aja ~ :p

Dulu, aku cuma tahu sebatas Raditya Dika adalah seorang berbadan mungil yang sering nongol di Provoactive dan digandrungi sama anak-anak muda. Tahu kalo dia kocak pun sebenernya sebatas dari perkataan temen-temen sama twit koplak akun @RadityaDika. Tapi, setelah baca buku-bukunya, aku jadi tahu Dika sedikit lebih banyak. Belum tahu sedetail kembar yang cinta mati sama Dika sih, tapi lebih baik lah. Seenggaknya jadi tahu gimana dia sering ngelakuin ritual kentut sama bokapnya, Edgar –adik Dika- yang mau sunat gara-gara serbuan mention di akun twitternya, gimana dulu dia ketemu Sherina, pernah ngehamilin anak orang gara-gara pegangan tangan –pemikiran Dika versi anak TK , sampe diari Alfa Persia Nasution – kucing Dika.

Dari semua cerita yang sukses bikin aku ngakak itu, aku pun jadi menyimpulkan beberapa hal. Pertama, di balik semua kekonyolan yang diceritain di buku-bukunya itu, Dika adalah sosok yang kritis melihat masalah. Sudut pandang yang dia pakai adalah sudut pandang yang nggak biasa dipake orang. Begitu juga dengan gaya bahasa yang dia pakai. Kadang, cerita yang dia tampilin tu sebenernya biasa. Kadang lho ya. Tapi, karena memang cara penyampaiannya rada nyleneh, cerita itu jadi luar biasa. Jadi bikin ngakak pake banget. Susah lho mbikin tulisan kayak gitu. Selain itu, Dika adalah orang yang emang terbuka. Apa aja diceritain kayak nggak punya malu. Tujuan buku itu memang menghibur, tapi secara nggak langsung kita ngetawain hidupnya Dika juga kan *eh.

Dilihat dari sisi lain, buku-buku ringan semacam karya Raditya Dika ini adalah buku yang bakal selalu punya pasar, terutama di kalangan anak muda. Anak muda sekarang kan seneng tuh yang serba kepo orang lain. Karena itu, cerita sehari-hari gini emang  cocok banget. Kenapa aku bilang kepo? Ya karena sebenernya kita emang secara nggak langsung ngepoin Dika. Bedanya adalah kita ngepoin dari kata-kata Dika yang panjang, nggak sebatas status atau tweet doang. Jaman-jaman kayak gini, kepo mengkepo itu memang menjual ya haha.

Apapun itu, sorry bang Dika, baru mbaca bukumu sekarang. Metal!

Tags: , , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,412 other followers